Forum Kebudayaan Dunia 2016 Digelar 5 Hari di Pulau Dewata

Admin
Admin,
Minggu, 06/11/2016 11:02 WIB


Forum Kebudayaan Dunia 2016 Digelar 5 Hari di Pulau Dewata
Om Kumis - Forum Kebudayaan Dunia, World Culture Forum (WCF) akan kembali digelar untuk yang kedua kalinya. WCF 2016 akan berlangsung selama lima hari di Nusa Dua Convetion Center, Nusa Dua, Bali, pada tanggal 10-14 Oktober 2016.
WCF merupakan perhelatan berskala internasional yang diselenggarakan sebagai inisiatif untuk mewujudkan Indonesia sebagai tuan rumah budaya di tingkat internasional, untuk membahas isu-isu strategis dan dapat merekomendasikan kebijakan untuk pengembangan budaya dunia berkelanjutan, khususnya yang berkaitan dengan perdamaian, kemakmuran, pelestarian, dan pengembangan kualitas hidup tingkat tinggi bagi peradaban global. Pemilihan lokasi penyelenggaraan di Bali karena pertimbangan Bali sebagai pusat untuk melakukan diskusi-diskusi pembangunan kebudayaan dunia.


Acara dijadwalkan akan dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada 13 Oktober 2016. Acara ini dihadiri lebih dari 1.500 peserta dan tokoh-tokoh dunia antara lain Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Menteri-Menteri Kebudayaan negara sahabat, NGO, IGO dan partisipan yang bergerak dibidang kebudayaan.

Selain itu beberapa nama , seperti, Ban Ki Moon (Sekjen PBB), Irina Bokova (Dirjen UNESCO) melalui video conference dan Megawati Soekarnoputri (Presiden RI ke-5) akan hadir sebagai pembicara kunci. Keynote Speaker lain seperti King Abdullah II (Raja Jordania), dan Justin Trudeau (PM Kanada) juga diharapkan hadir pada forum ini. Sedangkan sebagai pembicara dalam symposium akan hadir nama-nama terkenal seperti Ridwan Kamil (Walikota Bandung), Aleta Baun (Kepala Desa Mollo, NTT), Celio Turino (Culture Points, Brazil), Jill Cousins (Dirut Europana), Shinsuke Ota (Japan Water Agency), Wayan Windia (Ahli Subak), hingga Desi Anwar (CNN Indonesia).


Nama-nama diatas akan saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam simposium-simposium yang membahas sub-sub tema WCF 2016, antara lain: Reviving Culture for Rural Sustainability; Water for Life: Reconcilicing Socio-Economic Growth and Environmental Ethics; Interweaving History, Urban Space, and Cultural Movement; Culture in the New Digital World; Reconciling State, Community, and Cultural Divides; dan Cultural Diversity for Responsible Development. Tema-tema tersebut dipilih karena dianggap merupakan isu-isu penting dalam pembangunan dunia yang berkelanjutan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Muhadjir Effendy menyatakan pentingnya budaya sebagai sumber pembangunan yang berkelanjutan dan meminta agar WCF dapat melahirkan atau menelurkan sesuatu yang dapat berguna dalam pembangunan manusia.

"Saya yakin ini waktunya bagi kita untuk membuat platform saling pengertian dan menghargai keragaman budaya," kata Muhadjir dalam keterangan tertulis seperti diberitakan Kantor Berota Antara, Rabu (5/10). Budaya menurutnya merupakan komponen penting. "Forum ini memberikan kesempatan bagaimana budaya membantu pembangunan berkelanjutan," ujar Muhadjir

Kredit Foto : Beritasatu.com

Sementara itu Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid menyatakan, WCF 2016 diharapkan akan menjadi wadah bagi peserta untuk mengalami interaksi dengan kekayaan budaya Indonesia. WCF 2016 akan mengambil tema "Culture for an Inclusive Sustainable Planet".

“Indonesia, sebagai rumah kebudayaan yang luar biasa kaya, dan harus melihat budaya bukan semata sebagai warisan tetapi sebagai elemen dasar masa depan,” kata Hilmar.
Hilmar mengatakan, rumah budaya Indonesia memiliki banyak unsur, sehingga dapat disaksikan bagaimana masyarakat membentuk ekosistem. Pada perhelatan WCF 2016, Indonesia bukan sekadar sebagai tuan rumah tapi dapat menjadi tempat bagi para peserta mengalami interaksi dengan kekayaan budaya.

Kredit Foto : Beritasatu.com

Azyumardi Azra, salah seorang steering committee WCF menegaskan bahwa Indonesia sebagai negara yang multikultur dan ber-Bhinneka Tunggal Ika, adalah Negara yang relatif aman dan damai. Bahkan proses pemilihan umum saja sudah 5 kali diselenggarakan, dan tetap aman. Tidak terjadi kekerasan karena keragaman budaya itu. Realitas Indonesia yang multikultur itu adalah sebuah aset yang paling berharga, dan Indonesia ingin menaikan perannya dalam kancah dunia melalui diplomasi budaya.