Tak Bahas soal Mary Jane, Jokowi-Duterte Sepakati Tiga Hal

Admin
Admin,
Rabu, 09/11/2016 10:45 WIB


Tak Bahas soal Mary Jane, Jokowi-Duterte Sepakati Tiga Hal
Om Kumis - Presiden Joko Widodo dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyepakati tiga hal setelah menggelar pertemuan bilateral di Jakarta, Jumat (9/9). Soal radikalisme jadi sorotan pertemuan itu yang berujung pada kesepakatan. Dua dari tiga kesepakatan tersebut terkait dengan radikalisme.

Soal terpidana mati kasus narkotik asal Filipina, Mary Jane malah tidak disinggung sama sekali.

Sekitar dua jam, Duterte dan Jokowi bertemu di Istana Kepresidenan. Usai pertemuan, Jokowi mengungkapkan bahwa ada kesepakatan soal penanganan kasus WNI akan berhaji dengan menggunakan paspor Filipina.

“177 orang calon haji kita yang bermasalah dan 168 sudah diselesaikan. Masih ada sembilan orang di Manila, kami minta juga dibantu agar perkaranya bisa cepat selesai," kata Jokowi.

Para WNI itu memilih menggunakan paspor Filipina untuk berhaji agar bisa lebih cepat menunaikan ibadah ke tanah suci. Selama ini dalam catatan Kementerian Hukum dan HAM
sudah sekitar 700 WNI yang menggunakan jatah haji Filipina.

Jika mengandalkan kuota dalam negeri, WNI memang harus menunggu belasan hinggga puluhan tahun untuk bisa berhaji.

Kesepakatan kedua adalah soal pengamanan perairan Sulu, Filipina Selatan. Sudah beberapa kali kapal Indonesia yang melintasi perairan tersebut dibajak dan awaknya disandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf.

Menurut Jokowi, Duterte sepakat untuk meningkatkan keamanan di perairan tersebut agar tak ada lagi aksi pembajakan yang berujung penyanderaan.

Peningkatan keamanan akan diwujudkan melalui patroli bersama.Ini sudah lama disepakati melalui perjanjian trilateral antara Indonesia, Filipina dan Malaysia di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Pertemuan di Bali soal penanggulangan terorisme semakin menegaskan ini.

Sementara itu Duterte berharap tidak akan ada masalah keamanan lagi di Laut Sulu setelah digelarnya patrol bersama.

Kesepakatan terakhir adalah kerja sama dalam penanggulangan terorisme, penyebaran paham ekstrim, serta penyelundupan narkotik di Indonesia dan Filipina.
"Kami sepakat bekerja sama untuk mencegah, menangkap, dan mengadili pelaku teror. Kami memiliki sama keresahan yang sama soal penyebaran obat-obatan terlarang dan dampaknya pada masyarakat," kata Duterte.

Isu terpidana mati asal Filipina, Mary Jane Fiesta Veloso, tidak disinggung sama sekali dalam pertemuan bilateral ini. Padahal sebelumnya sejumlah pihak meyakini bakal ada pembahasan soal perempuan terpidana mati itu.

Eksekusi mati terhadap Mary Jane ditunda lantaran menunggu perkara lain yang terkait dengannya di Filipina selesai. Saat ini Mary Jane ditahan di sebuah penjara di Yogyakarta.