Kisah Obat Palsu Pasar Pramuka

Admin
Admin,
Jumat, 11/11/2016 15:55 WIB


Kisah Obat Palsu Pasar Pramuka
Om Kumis - Tujuh toko di Pasar Pramuka, Jakarta Pusat diketahui menjual obat palsu. Toko-toko yang kini ditutup paksa itu juga diketahui menjual obat kadaluwarsa.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah menyelidiki keberadaan toko-toko obat palsu itu sejak 2010. Data toko obat yang menjual obat palsu dan obat kadaluwarsa di Pasar Pramuka ada delapan toko.
Namun saat penertiban satu toko sudah tutup.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyatakan tak akan lagi mengizinkan kios di mana pernah ada toko menjual obat palsu, digunakan lagi untuk toko obat.
Hal ini untuk menghindari pedagang mengganti nama toko obatnya, namun tetap menjual obat palsu lagi.

Obat-obatan palsu tersebut jika digunakan bisa berakibat menurunnya daya tahan tubuh hingga efek over dosis.

Kredit Foto : Suara.com

Dalam penertiban yang dilakukan bersama kepolisian itu, disita ribuan obat palsu dan obat kadaluwarsa. Setelah dikembangkan, diketahui ada sebuah rumah yang digunakan untuk menyimpan obat palsu dan obat kadaluwarsa itu.

"Berdasarkan informasi masyarakat, rumah di Jalan Kayu Manis RT 07 RW 04 Utan Kayu, Matraman, Jakarta Timur, milik tersangka M, dijadikan sebagai tempat menyimpan obat-obatan kedaluwarsa," kata Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar M Fadil.

Kepada polisi, M mengaku menghapus tanggal masa berlaku obat-obatan. Obat yang tidak layak pakai itu selanjutnya dijual di toko bernama Toko Mamar Guci di lantai dasar Pasar Pramuka.

Tersangka M sudah satu tahun menjual obat ilegal itu. Tersangka mengaku menjual obat seperti Flavin untuk alergi, Sohobal untuk pelancar darah, Scopamin Plusobat untuk sakit perut, Zincare dan Lodia untuk diare, Forbetes dan Padonil untuk obat diabetes, Lipitor untuk kolesterol, Acran untuk obat mag, Cindala untuk antibiotik, Mersikol untuk obat nyeri tulang, Biosanbe untuk vitamin zat besi, vitamin untuk daya tahan tubuh Imudator, dan vitamin Nutrichol.

Kepada polisi, M mengaku telah meraup untung sebesar Rp96 juta selama ia menjual obat ilegal itu.
Mendapat untung hampir seratus juta rupiah, namun M kini harus menghadapi ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara dan denda Rp1 miliar seperti yang diatur dalam Pasal 196 jo Pasal 98 ayat 2 Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Kredit Foto : Suara.com

Bukan hanya itu, M juga diancam dengan Pasal 62 jo Pasal 8 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pelaku Usaha yang Melanggar Ketentuan dengan ancaman penjara paling lama lima tahun, atau pidana denda paling banyak Rp 2 miliar.