Pajak Google yang Harus Dibayar Ditaksir Rp5,5 Triliun Per Tahun

Admin
Admin,
Selasa, 15/11/2016 01:00 WIB


Pajak Google yang Harus Dibayar Ditaksir Rp5,5 Triliun Per Tahun
Om Kumis - Raksasa internet Google diperkirakan menunggak pajak selama lima tahun. Jumlahnya sangat besar. Dilansir dari Kompas, tahun lalu saja, tagihan pajak Google mencapai 418 juta dollar AS atau sekitar Rp 5,5 triliun.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak terus mengejar Google untuk bisa membayar pajak mereka.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Jakarta Khusus, Muhammad Haniv, mengatakan, kantor Google di Jakarta kembali didatangi pada Senin, (19/9).

Ditjen Pajak menduga bahwa tahun lalu Google hanya membayar 0,1 persen dari total pajak pendapatan dan pertambahan nilai yang seharusnya dibayar.

Saat dimintai komentar, Google Indonesia mengulangi pernyataan yang sama seperti pekan lalu, di mana perusahaan tersebut menyatakan telah bekerja sama dengan otoritas dan membayar semua pajak.

“Argumen Google yang disampaikan adalah mereka melakukan perencanaan pajak,” kata Haniv.

“Perencanaan pajak tersebut menurut Haniv sah, namun jika negara yang menghasilkan pendapatan tersebut tidak mendapatkan apa pun, maka hal itu tidak sah.

Sebagian besar pemasukan Google Indonesia dialihkan ke Google Asia Pacific yang berkantor di Singapura. Sementara menurut Haniv, Google Asia Pacific menolak diaudit bulan Juni. Akibatnya status penyelidikan pajaknya ditingkatkan ke investigasi kriminal.

Kredit Foto : Kinciakincia.com

Apabila terbukti bersalah, maka Google terancam harus membayar empat kali lebih besar dari jumlah tagihan pajak maksimum, hingga bisa mencapai angka Rp 5,5 triliun untuk tahun 2015 saja. Haniv enggan mengungkap rincian tagihan pajak Google selama periode lima tahun.
Ditjen Pajak juga berencana mengejar perusahaan rakasasa internet yang selama ini beroperasi di Indonesia seperti Facebook dan Twitter.

Transaksi bisnis periklanan digital diperkirakan mencapai 830 juta dollar AS per tahun. Sebanyak 70 persen dari jumlah itu dikuasai oleh Facebook dan Google.