Cari Suaka, 10 Imigran di Batam Nyambi Jadi Gigolo

Admin
Admin,
Senin, 14/11/2016 09:13 WIB


Cari Suaka, 10 Imigran di Batam Nyambi Jadi Gigolo
Om Kumis - Memanfaatkan kebebasan bersosialisasi dengan warga sekitar, sepuluh imigran asal Afghanistan dan Pakistan di Batam memilih menjadi gigolo. Imigran pencari suaka tersebut sebenarnya tinggal menunggu izin masuk ke negara yang mau menerima mereka.

Indonesia hanya dijadikan transit. Di Batam, Kepulauan Riau, mereka di bawah perlindungan badan PBB untuk pengungsi (UNHCR) dan organisasi internasional untuk migrasi (IOM). Karena di bawah tanggung jawab UNHCR dan IOM, para imigran tersebut tak ditempatkan di Rumah Detensi Imigrasi. Karena itu mereka bisa keluar untuk bergaul dengan warga setempat.

Kredit Foto : Panturapos

Belakangan mereka bertemu dengan seorang warga negara Indonesia berinisial BS. Oleh BS, para imigran berusia 15 tahun hingga 35 tahun itu disalurkan untuk melayani nafsu para wanita yang membutuhkan jasa mereka.

Sembil menunggu kepastian dari negara tujuan, pekerjaan sambilan itupun diterima. Apalagi tarif sekali kencan cukup menggiurkan yakni mencapai Rp20 juta.

Direktur Jenderal Imigrasi Kemenkumham Ronny F Sompie mengatakan, penangkan 10 imigran ini berawal dari laporan masyarakat. "Ada laporan bahwa ada anak muda warga negara asing yang sering berolahraga bersama seorang wanita Indonesia," kata Ronny.

Dari pendataan yang dilakukan, sembilan orang WNA ini berasal dari Afghanistan dan satu dari Pakistan. Mereka sudah berada di Batam sekitar 1,5 tahun.

Karena melanggar hukum di negara tempat mereka transit, mereka bisa diproses hukum. Ditjen Imigrasi menurut Ronny akan berkoordinasi dengan IOM dan UNHCR.
Setelah proses hukum, tindakan lainnya seperti tindakan administrasi keimigrasian bisa dilakukan seperti deportasi dan penangkalan.

"Kalau perlu seumur hidup tidak boleh masuk," ujar Ronny.

Sementara untuk BS proses hukumnya akan diserahkan ke Polres Barelang. Menurut bekas Kapolda Bali ini, BS bisa dijerat dengan pasal Undang-undang Perlindungan anak karena ada pengungsi yang dipekerjakannya masih berusia di bawah umur.