Irman Gusman: Pejabat Tertinggi Terjerat Korupsi

Admin
Admin,
Selasa, 15/11/2016 00:34 WIB


Irman Gusman: Pejabat Tertinggi Terjerat Korupsi
Om Kumis - Jika urutan pejabat tinggi di Indonesia dinilai berdasarkan pelat kendaraan dinasnya, maka Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman memecahkan rekor sebagai pejabat tinggi negara yang terjerat korupsi. Sebagai ketua DPD, Irman berhak mengendari kendaraan dinas RI 7.

Bisa diartikan, ia adalah pejabat paling tinggi nomor tujuh. Pertama atau RI 1 jelas Presiden, disusul oleh RI 2 Wakil Presiden. Sementara RI 3 dan RI 4 merupakan milik istri Presiden dan istri Wapres.

Dilanjutkan RI 5 milik Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat dan RI 6 milik Ketua Dewan Perwakilan Rakyat. Seperti disebut diawal, RI 7 merupakan pelat nomor milik Irman yang tadi malam tertangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi, dan kini sudah jadi tersangka kasus gratifikasi.

Sebelum Irman, rekor pejabat tinggi yang terjerat korupsi miliki Akil Mochtar yang saat ditangkap adalah Ketua Mahkamah Konstitusi. Negara memberikan fasilitas mobil dinas kepada Akil saat itu dengan pelat nomor RI 9.

Dijadikannya Irman sebagai tersangka korupsi jelas mencoreng negeri ini. Memang asas praduga tak bersalah harus dikedepankan. Namun jangan lupa, KPK selama ini tak pernah mengenal istilah surat perintah penghentian penyidikan (SP3) untuk menyetop sebuah kasus korupsi.


Bbc.com

Kemungkinan Irman terhindar dari perkara yang menjeratnya, bisa dengan mengajukan praperadilan seperti yang dilakukan Budi Gunawan, jenderal polisi yang saat ini jadi Kepala Badan Intelijen Negara.

Status tersangka Budi dibatalkan pengadilan. Kasusnya sendiri kemudian dilimpahkan ke Kejaksaan Agung. Kejaksaan kemudian melimpahkanya lagi ke Bareskrim Polri sebelum akhirnya perkara itu dihentikan oleh Korps Bhayangkara.

Irman jadi tersanka kasus gratifikasi. Ia diduga menerima uang Rp100 juta dari pengusaha CV Semesta Berjaya.

Uang diterima diduga untuk mengurus kuota gula impor untuk Provinsi Sumatera Barat tahun 2012 yang diberikan Perum Bulog.

Ia ditangkap bersama pasangan suami istri pemilik perusahaan tersebut yang baru saja bertamu di rumahnya. Saat itulah diduga ada penyerahan uang. Uang yang kini jadi barang bukti kasus.