BUDAYA

Ini Dia 6 Ritual Yang Biasa Dilakukan Setiap Malam Satu Suro

 I Hanta Dri
I Hanta Dri,
Rabu, 20/09/2017 11:53 WIB


Ini Dia 6 Ritual Yang Biasa Dilakukan Setiap Malam Satu Suro
Om Kumis - Kamu pasti sering mendengar tentang ritual atau perayaan Satu Suro. Bagi masyarakat di daerah Jawa, setiap malam satu Suro diperingati dengan melakukan ritual-ritual tertentu. Ya, Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro. Jadi, malam satu Suro sebenarnya adalah malam menjelang tahun baru Hijriyah yang jatuh pada tanggal 1 Muharram.

Bagi masyarakat Jawa, malam satu Suro masih dianggap sakral, sehingga banyak ritual yang digelar pada malam tersebut. Ritual satu Suro ini bermula saat zaman Sultan Agung sekitar tahun 1613-1645, dan hingga kini masih dijalankan sebagai tradisi yang lestari. Tradisi melakukan ritual malam satu Suro tersebut umumnya bertujuan untuk mencari berkah dan juga untuk menangkal datangnya marabahaya atau yang biasa disebut tolak bala.

Nah, bagi kamu yang belum tahu tentang tradisi dan ritual malam satu Suro yang hingga kini masih dilakukan oleh sebagian besar masyarakat di Jawa, berikut ini Omkumis rangkumkan beberapa ritual yang masih dijalankan. Yuk, simak baik-baik ya.

1. Jamasan Pusaka

Kredit Foto: antimistik.blogspot.com

Jamasan adalah kegiatan mencuci, membersihkan, atau memandikan dalam bahasa. Jadi, jamasan pusaka adalah ritual membersihkan alat-alat, pusaka, dan benda-benda yang dikeramatkan atau diagungkan. Nah, malam satu Suro adalah waktu untuk membersihkan pusaka-pusaka seperti keris, tombak, dan pusaka lainnya. Bagi masyarakat Jawa, keris adalah senjata atau pusaka yang diagungkan. Bagi orang yang memiliki keris dan percaya bahwa keris itu memiliki kekuatan gaib,  mencuci keris atau yang biasa disebut "Ngumbah Keris" tidak boleh dilakukan secara sembarangan dan hanya dilakukan di waktu tertentu, yaitu malam satu Suro yang sakral. Selain mencuci keris, ritual jamasan pusaka di malam satu Suro rutin dilakukan di keraton Yogyakarta dengan mencuci Kereta Pusaka yang ada di keraton. Selain itu gamelan-gamelan pusaka juga di jamas di malam satu Suro ini.


2. Tapa Bisu Mubeng Beteng

Kredit Foto: citizen6.liputan6.com

Tapa Bisu Mubeng Beteng adalah ritual berjalan keliling benteng tanpa berbicara yang dilakukan oleh seluruh Abdi Dalem  serta ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Dalam menjalani tirakat atau lelaku ini, para peserta mengelilingi benteng-benteng Keraton dan berjalan tanpa menggunakan alas kaki serta tidak berbicara sepatah katapun alias 'Tapa Bisu'. Tirakat dalam keheningan total ini dilakukan sebagai bentuk instropeksi, refleksi diri atau perenungan diri.


3. Kirab Kebo Bule

Kredit Foto: solopos.com


Bagi masyarakat Solo dan sekitarnya, Kirab Kebo Bule sangat dinantikan setiap tahunnya. Kirab Kebo Bule adalah ritual yang diadakan Keraton Kasunanan Surakarta. Seperti namanya, ritual adalah kirab dimana sekawanan kerbau (kebo) bule atau albino digiring atau diarak (kirab) keliling kampung. Tapi kerbau itu bukan sembarang kebo, melainkan kerbau yang
pusaka keraton dan dianggapkeramat, yaitu Kebo Bule Kiai Slamet. Yang menarik adalah, saat kirab banyak orang berjalan mengikuti Kebo Bule Kiai Slamet dan berebut menyentuh tubuh kebo bule. Namun bukan itu yang unik, orang-orang itu justru menantikan saat kebo bule itu buang kotoran. Begitu kotoran kebo bule jatuh ke jalan, mereka langsung berebut mengambil kotoran itu. Orang yang bisa mengambil kotoran itu akan sangat bahagia karena mereka mencari berkah Kyai Slamet. Hal ini disebut dengan ngalap berkah.

4. Siraman

Kredit Foto: antarafoto.com

Siraman adalah ritual mandi dengan air yang dicampur kembang setaman. Siraman ini dimaksudkan untuk pembersihan dan penyucian diri. Dengan siraman ini diharapkan tubuh dan jiwa bisa bersih serta menghindarkan dari marabahaya saat masuk di bulan Suro. Ritual siraman ini biasanya dilakukan di luar rumah dan di tempat dengan air mengalir seperti sungai atau di air terjun.


5. Tapa Kungkum

Kredit Foto: banjarmasin.tribunnews.com

Dalam bahasa Jawa, tapa kungkum artinya adalah bertapa dengan berendam. Tapa Kungkum dalam tradisi menjelang satu Suro adalah berendam di sungai, biasanya sungai yang besar dan akan lebih baik lagi jika dilakukan di titik pertemuan dua sungai. Ritual tapa kungkum ini dimaksud untuk menyucikan hati dan pikiran dan menjauhkan dari hal-hal negatif. Dengan kungkum di sungai yang sepi dan sejuk maka ada waktu untuk menginstropeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Selain itu tapa kungkum dimaksudkan untuk memunculkan keberanian sekaligus menenteramkan hari dari segala macam amarah.

6. Lek-lekan (melek sepanjang malam)

Kredit Foto: budisntoso.blogspot.com

Lek–lekan adalah kegiatan dimana warga suatu kampung melek alias tidak tidur sepanjang malam saat malam satu Suro. Hal ini dilakukan untuk memohon keselamatan dan mencegah datangnya marabahaya. Hingga sekarang tradisi lek-lekan masih terus dilakukan. Biasanya warga menggelar tikar di depan rumah atau di jalanan kampung.


Nah itu tadi sobat Omkumis ritual yang biasanya dilakukan untuk menyambut malam satu Suro. Apakah sama dengan yang dilakukan di daerahmu? Apapun itu, kita harus terus menjaga tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang kita secara turun menurun. Semoga info dari Omkumis ini bisa bermanfaat untuk sobat Omkumis.